Bisa jadi di kamus Brigadir Kepala (Bripka) Muryono tak mengenal kata menyerah. Buktinya, di usianya yang sudah 57 tahun, anggota Satuan Lalulintas Polres Tegal, Jawa Tengah ini terus gigih bertugas sebagai pelayan masyarakat sekaligus keluarganya. Bayangkan saja, di usia senjanya, Bripka Muryono justru dihadapkan pada persoalan yang begitu pelik dan berat. Meski begitu, dia yang lima bulan lagi pensiun itu, tak mau melakukan pungli ataupun sejenisnya. Padahal walaupun gajinya hanya pas-pasan untuk menyambung hidup sehari-hari.
Bripka Muryono selalu menomorsatukan kejujuran baik saat bertugas, maupun saat menjadi kepala keluarga. Dia yang separuh hidupnya diabdikan untuk Kepolisian Negara Republik Indonesia, kini harus merawat istrinya yang menderita stroke dan anaknya yang depresi.
Setiap hari, Bripka Muryono harus merawat istrinya, Sulistyowati, 55, yang menderita stroke sejak 2003 silam. Di rumah kontrakannya yang sederhana di Jalan Aiptu KS Tubun Slawi, dia tinggal bersama istri, anak perempuan, dan seorang cucunya.
Cucunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, juga harus diurusnya sendiri. Karena anak perempuannya (ibu dari cucunya, Red.) depresi dan tak bisa merawat anaknya.
Sebelum berangkat kerja, Pakde Mur (sapaan akrab Bripka Muryono) harus mengurus keperluan rumah tangganya. Pagi-pagi sekali dia bangun. Usai salat Subuh, Bripka Muryono bergegas ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“Bangun subuh-subuh, pukul 05.30 WIB, saya berangkat ke pasar belanja sayur, dan kemudian saya memasaknya. Setelah pukul 07.00 WIB, saya harus memandikan istri yang waktu itu tidak bisa jalan,” katanya seperti yang dikutip dari tribratanews.com.
Setelah selesai mengurus istrinya, Bripka Muryono menyuapinya, lalu memandikan cucu, serta menyiapkan sarapan paginya. Kemudian, baru dia mengantarkannya ke sekolah.
Nah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dia tak bisa begitu saja mengandalkan gaji sebagai seorang polisi. Itulah sebabnya Bripka Muryono mencari uang tambahan menjadi tukang servis peralatan elektronik dan bercocok tanam.
Keahliannya memperbaiki peralatan elektronik yang dilakukan di depan rumahnya, didapatkan secara otodidak. Sepulang bekerja, Bripka Muryono juga menyempatkan diri ke sawah bercocok tanam. Hasil dari berladangnya, dia tabung untuk keperluan keluarga dan sekolah cucunya.
Kisah kegigihan Bripka Muryono ini sampai pula ke telinga Kapolres Tegal AKBP Adi Vivid AB SIK MHum MSM. Kegigihan Bripka Muryono sebagai polisi dan menjalani kehidupannya sehari-hari, menginspirasi Polres Tegal untuk membangun Perumahan Bhayangkara Residence.
Perumahan tersebut diperuntukkan bagi anggota Polres Tegal yang belum memiliki rumah sendiri. “Pak Muryono menginspirasi kami untuk membangun Perumahan Bhayangkara Residence. Karena beliau dari sejak bekerja sampai menjelang pensiun belum mendapatkan rumah,” ujar Kapolres.
Bripka Muryono, merupakan salah seorang anggota polisi yang mendapatkan jatah unit di Perumahan Bhayangkara Residence Tegal. Bahkan Bupati Tegal pun turut membantu membayarkan uang muka untuk pembelian rumah yang akan ditempati Bripka Muryono beserta keluarganya itu.
“Uang muka untuk Pak Mur dibantu Bupati. Lima bulan lagi beliau pensiun,” tutur AKBP Adi Vivid lagi.
Sebagai pimpinan, AKBP Adi Vivid menilai Bripka Muryono adalah polisi yang jujur, memiliki etos kerja, dan kinerja yang baik. “Beliau selalu melaksanakan tugas dengan baik dan tidak pernah mengeluh,” pungkasnya. (muj/zul)
Sumber : jawapos
